Donatur Lazismu Bukan Hanya Warga Muhammadiyah
Donatur Lazismu bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tapi seluruh umat muslim. Sebab lembaga ini dibuat untuk kesejahteraan semua kalangan.
Tagar.co – Lazismu dibentuk bukan hanya untuk warga Muhammadiyah, tapi seluruh umat muslim. Begitu juga para donatur lembaga amil zakat ini.
Hal itu disampaikan motivator dan konsultan, Moch. Edy Prayitno, dalam Rapat Kerja Daerah Rakerda Tahun 2026 dan Upgrading Amil Lazismu Gresik, Jumat (30/1/2026).
Edy Prayitno mengatakan, potensi penghimpunan dana Lazismu dapat mencapai tiga hingga empat kali lipat dari capaian saat ini. Tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan dana, melainkan pada cara berpikir para penggerak Lazismu.
“Jangan menggunakan kacamata kuda. Jika Lazismu hanya dipersepsikan untuk warga Muhammadiyah saja, maka kita akan stagnan,” tuturnya.
Potensi pasar itu sangat besar, katanya. Sudahkah kita masuk ke pasar-pasar dan melakukan penghimpunan harian? Selama ini kita cenderung mencari donatur hanya di masjid atau sekolah.
Dia menekankan pentingnya kreativitas sebagai kunci untuk menggali potensi dana umat yang masih terbuka sangat luas.
Menurut dia, Lazismu tidak menjadi sekadar angin lalu, tetapi mampu menampilkan performa terbaik dan profesional agar dapat bersaing dengan lembaga zakat lainnya.
Edy juga membedah tipologi sumber daya manusia (SDM). Mulai dari yang memiliki kelincahan (agility) tinggi hingga yang justru berpotensi menjadi penghambat laju organisasi.
“Pilihannya hanya satu: mau bergerak atau tidak. Dibutuhkan lompatan-lompatan besar. Jika tidak berani memodifikasi cara kerja, kita akan tertinggal. Zaman sekarang menuntut kreativitas, bukan pola tradisional yang kaku,” ujarnya.
Dijelaskan pentingnya menghapus alasan-alasan yang selama ini menghambat produktivitas. Ia meminta para amil untuk menanggalkan kata tidak bisa, tidak mungkin, dan tidak yakin.
“Jangan jadikan usia, fisik, gender, bahkan urusan penampilan sebagai alasan. Kita sehat, maka kita mampu. Banyak orang dengan keterbatasan justru bisa melampaui kita karena berani memanfaatkan potensi yang dimiliki,” tuturnya.
Ia juga memetakan kategori pekerja dalam organisasi, mulai dari yang kurang efektif hingga tipe subversif, yakni individu yang secara diam-diam dapat merusak kinerja dan budaya organisasi jika tidak dikelola dengan baik.
Lantas dia memaparkan konsep dasar perubahan yang berangkat dari pemahaman kebutuhan dasar (basic need), respons terhadap tantangan, hingga lahirnya harapan dan peluang baru.
Ia mendorong para amil untuk berani keluar dari zona nyaman dan aktif berinteraksi dengan donatur dan potensi baru di lapangan.
Sebagai langkah konkret, Edy membekali peserta dengan sejumlah perangkat pemasaran yang harus dimiliki setiap amil Lazismu, di antaranya mapping sasaran melalui pemetaan sektor petani, nelayan, industri, dagang, dan lain-lain (PNIDL).
Juga mapping pasar dengan pendataan muzakki untuk kunjungan rutin bulanan, mapping pesaing, mapping kebutuhan pelanggan, hingga mapping langkah-langkah aksi pelaksanaan.
Kemudian Edy Prayitno mengajak seluruh amil Lazismu Gresik untuk memegang teguh prinsip keberhasilan: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, dan Kerja Tuntas, sebagai fondasi dalam membangun Lazismu yang produktif, kreatif, dan berdaya saing. (#)
Jurnalis Dyah Faridah NH
Penyunting Sugeng Purwanto
Sumber Artikel :
1. https://tagar.co/donatur-lazismu-bukan-hanya-warga-muhammadiyah/
Artikel Terbaru
Target PDM Gresik: Satu Cabang, Satu AUM
Donatur Lazismu Bukan Hanya Warga Muhammadiyah
Sinergi Lazismu Gresik dan Icon Mall Gelar Gathering Muzakki...
Sabian Barber Soccer Gandeng Lazismu Gresik, Potong Rambut J...
Pra Ramadhan Lazimu : Kemilau Kreativitas "Peri-Peri Kecil"...
Berdakwah ke Dunia Anak Lewat Cerita, Lazismu Warnai Peringa...
Masjid As Shalihin Sangkapura Bawean Dilengkapi PLTS dan Sum...
UMKM Lazismu Gresik Punya Cerita : Rombong Oranye, Batagor,...
Ketua PDM Gresik: Lazismu Harus Berani Pasang Target Terukur
Imam Hambali: Rakerwil Lazismu Jatim Bukan Sekadar Agenda Ru...