Kekuatan Kisah Nabi Muhammad, Penopang saat Hidup Terasa Berat

20/02/2026
Administrator

Tagar.co — Embusan angin mulai menusuk kulit saat cahaya lampu LED menerangi setiap sudut ruang kelas TK Aisyiyah 42 GBA, Gresik, Jawa Timur. Ruang pertemuan untuk kegiatan Kelas Akselerasi Amil (Kamil) Batch 2 itu kini berubah fungsi menjadi musala sementara. Para peserta Kamil berjemaah menunaikan ibadah salat Magrib pada Jumat, 6 Februari 2026.

 

Di tengah kekhusyukan menghadap Allah Swt, seorang peserta melangkah maju untuk memberikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum). Shobahul Kirom, S.Psi., membagikan sebuah kisah yang melekat erat di hatinya untuk mempertebal iman rekan sejawatnya. Ia mengajak jemaah kembali ke masa sebelum peristiwa Isra Mikraj, saat Nabi Muhammad SAW menghadapi ujian hidup yang luar biasa hebat.

 

Masa itu merupakan titik terberat bagi Rasulullah. Dua pilar pendukung utamanya wafat dalam waktu yang berdekatan: istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman yang melindunginya, Abu Thalib.

 

“Sejarah mencatat momen ini sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Dunia seolah meredup bagi Nabi. Tanpa perlindungan politik Abu Thalib dan dukungan logistik Khadijah, kaum Quraisy di bawah komando Abu Jahal semakin beringas memusuhi beliau,” ujarnya.

 

Luka di Balik Doa Thaif

 

Namun, lanjut Kirom, Nabi tidak membiarkan duka menenggelamkan langkahnya. Nabi berjalan menuju Thaif dengan harapan penduduk di sana menerima dakwah Islam.

 

“Sayangnya, kenyataan justru menghantam fisik dan batinnya. Penduduk Thaif menolak Nabi mentah-mentah. Mereka melemparinya dengan batu, menghina, hingga tubuh suci itu bersimbah darah,” ungkapnya.

 

Saat darah hampir menetes ke tanah, Nabi dengan sigap menyekanya. Beliau menyadari sebuah konsekuensi besar: jika darah seorang Nabi menyentuh bumi Thaif, maka murka Allah akan jatuh menimpa penduduknya. Nabi tidak menginginkan kehancuran itu.

 

Melihat kekasih-Nya dizalimi, Allah mengutus Malaikat Jibril bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat itu menawarkan bantuan, “Wahai Muhammad, katakan saja apa keinginanmu, akan aku hempaskan dua gunung ini kepada mereka.”

 

Namun, Nabi yang penuh kasih sayang itu justru menolak tawaran tersebut dan memilih memanjatkan doa yang menggetarkan langit. Saat membacakan doa Nabi untuk penduduk Thaif tersebut, suara Kirom mulai parau. Air matanya menggenang, menahan haru membayangkan beratnya beban yang Rasulullah pikul.

 

Meneladani Ketegaran sang Rasul

 

“Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku,” ucap Kirom dengan suara bergetar.

 

Ia melanjutkan kutipan doa tersebut. “Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau rida kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu,” lanjutnya.

 

Menutup kultumnya, Kirom berpesan agar para amil meneladani ketegaran Nabi dalam menghadapi ujian hidup, termasuk dalam perjuangan dakwah di Lazismu. Ia menekankan bahwa tantangan dalam mengelola zakat dan kemanusiaan adalah bagian dari proses penguatan diri.

 

“Semoga dengan ujian yang ada, kita tetap optimis dan tak menyerah. Anggap saja ujian itu angin lalu yang menguatkan, bukan beban yang membuat kita tenggelam,” pungkasnya mantap. (#)

 

Jurnalis Dyah Faridatun N. H. 

Penyunting Sayyidah Nuriyah


Alamat
Jl. Jawa no. 76 GKB Gresik 61151 031-3594-7013
Statistik Web
Hari Ini : 33 Minggu Ini : 998 Bulan Ini : 3911
Copyright © 2026. All Rights Reserved.