Kompetensi Amil, Pilar Strategis Performa dan Kepercayaan Publik Lazismu

20/02/2026
Administrator

Tagar.co – Kompetensi amil kini bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pilar strategis yang menentukan performa dan tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga zakat.

 

Hal ini disampaikan praktisi filantropi senior, Agung Wicaksono, dalam Kegiatan KAMIL (Kelas Akselerasi Amil) Batch 2 Lazismu Gresik bertempat di TK ABA 42 GBA, Sabtu (7/2/2026).

 

Dalam paparannya yang bertajuk Undercover 10, Agung menekankan, reputasi sebuah lembaga zakat, seperti Lazismu, sangat bergantung pada bagaimana para amilnya mengubah profesionalisme menjadi dampak nyata di masyarakat.

 

“Hanya orang yang kompeten yang bisa bekerja dengan sungguh-sungguh. Tanpa kompetensi, kita tidak akan mampu menemukan jalan untuk memberikan pengabdian terbaik kepada Allah Swt dan umat,” ujar Agung di hadapan para penggerak zakat.

 

Agung menggarisbawahi tiga elemen kunci yang harus dimiliki oleh setiap amil untuk mencapai standar kompetensi nasional maupun global.

 

Pertama, Knowledge (Pengetahuan): Memahami manajemen administrasi, hukum syariah zakat, hingga tata kelola lembaga.

 

Kedua, Skill (Keterampilan): Kemampuan berkomunikasi, teknik negosiasi (merayu dalam kebaikan), dan ketangkasan teknologi.

 

Ketiga, Attitude (Sikap): Memiliki growth mindset, integritas, dan semangat melayani yang tulus.

 

Menurutnya, amil yang memiliki sikap (attitude) yang baik akan terus bertumbuh meskipun pengetahuan dan keterampilannya saat ini masih terbatas.

 

“Begitu mereka mau belajar dan berproses, skill dan knowledge otomatis akan meningkat hingga mampu bersaing di kancah internasional,” tambahnya.

 

DNA Amil

 

Agung memperkenalkan konsep DNA Amil yang harus tertanam dalam diri setiap pejuang zakat:

  1. Risk Taker: Berani menghadapi risiko penolakan saat melakukan penghimpunan.

  2. Opportunity Hunter: Jeli melihat peluang kolaborasi, tidak hanya di lingkup lokal, tapi hingga skala global.

  3. Resource Allocator: Mampu memaksimalkan sumber daya yang terbatas melalui kolaborasi kreatif dengan berbagai pihak seperti kampus, komunitas, dan korporasi melalui strategi multihelix.

  4. Organization Performance Radical.

  5. Ecosystem Crazy Network: Mengajak kolaborasi dengan sosialita, gereja, dan lain-lain selama dalam konteks kemanusiaan.

 

Mengubah Peristiwa Menjadi Cerita

 

Salah satu poin menarik yang disampaikan Agung adalah pentingnya kemampuan amil dalam mengemas laporan melalui storytelling.

 

Dia mencontohkan bagaimana sebuah produk pemberdayaan, seperti kotak tisu dapat memiliki nilai jual tinggi jika dibarengi dengan kisah perjuangan di baliknya.

 

“Jangan hanya menjual produk, tapi sampaikan cerita di balik produk tersebut. Ceritakan tentang janda yang menghidupi tiga anak yatim di baliknya. Itulah yang akan menyentuh hati muzakki dan membangun kepercayaan publik,” jelasnya.

 

Target Besar dan Sejarah Baru

 

Mengakhiri sesi, Agung menantang para amil di Kabupaten Gresik untuk berani bermimpi besar.

 

Ia mencontohkan pengalamannya mengelola cabang yang mampu melompatkan penghimpunan dari angka jutaan hingga miliaran rupiah dalam waktu singkat melalui inovasi dan kerja keras.

 

“Buatlah sejarah baru. Biarkan prestasi kalian yang berbicara. Dunia harus melihat bahwa amil dari tingkat kabupaten pun bisa memberikan dampak hingga ke pelosok NTT bahkan luar negeri,” tutupnya dengan penuh semangat. (#)

 

Jurnalis Hilda Firdaus  

Penyunting Sugeng Purwanto


Alamat
Jl. Jawa no. 76 GKB Gresik 61151 031-3594-7013
Statistik Web
Hari Ini : 33 Minggu Ini : 998 Bulan Ini : 3911
Copyright © 2026. All Rights Reserved.