Merawat Marwah Lembaga Zakat lewat Tata Kelola Dana Umat

20/02/2026
Administrator

Tagar.co — Suasana ruang pertemuan di TK Aisyiyah 46 PPI, Jumat, 31 Januari 2026, mendadak hening saat Zaenal Abidin berdiri di depan podium. Wakil Sekretaris Badan Pengawas Lazismu Jawa Timur itu tak sekadar datang untuk memberi sambutan formal. Ia membawa misi besar: membedah urat nadi manajemen Lazismu Gresik agar tetap sehat dan bermartabat.

 

Zaenal mengawali arahannya dengan teguran halus namun menohok tentang budaya kerja. Ia menyoroti kecenderungan para amil yang sering terjebak dalam zona nyaman dengan dalih kebiasaan. Menurutnya, sikap meremehkan persiapan adalah pintu masuk bagi kelalaian yang fatal.

 

“Sering kali kita berkegiatan selalu mengatakan ‘biasanya begini, biasanya begitu’. Itu yang membuat kita teledor. Jangan bicara ‘biasanya’ kalau tidak segera menyiapkan segala sesuatunya,” tegas Zaenal dengan nada bicara yang mantap.

 

Persoalan tidak berhenti pada mentalitas, tetapi juga merambah ke teknis administratif. Zaenal menekankan, seluruh Kantor Layanan Lazismu (KLL), baik yang berada di tingkat PCM, Ortom, hingga Rumah Sakit Muhammadiyah (RSMA), wajib patuh pada koordinasi Lazismu Daerah. Ia menemukan fakta, masih ada dana umat yang hanya tercatat secara on balance sheet, namun belum masuk dalam radar proses audit resmi.

 

“Ketika dana hanya dicatat on balance sheet, maka secara audit tidak diakui. Ini perlu menjadi perhatian bersama agar transparansi tetap terjaga,” jelasnya.

 

Ia mengingatkan, integritas lembaga zakat sangat bergantung pada validitas pencatatan setiap rupiah yang masuk dari para muzakki.

 

Integrasi Pilar dan Semangat ESG

 

Zaenal juga mengkritik adanya KLL yang masih berjalan sendiri-sendiri alias parsial. Beberapa cabang kerap mengembangkan program di luar kebijakan Lazismu Pusat. Padahal, konsistensi nama program sangat penting untuk penguatan branding lembaga. Ia mengambil contoh Program Beasiswa Mentari di pilar pendidikan.

 

“Nama programnya tetap, kegiatannya boleh beragam dan kolaboratif. Amil boleh berkreasi secara kreatif melalui kolaborasi lintas pilar tanpa harus mengubah identitas program utamanya,” ujarnya.

 

Potensi Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) di lingkungan Pimpinan Ranting (PRM) maupun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebenarnya sangat besar. Namun, ego sektoral seringkali menjadi penghambat integrasi. Zaenal mendorong para pimpinan untuk menyamakan frekuensi agar AUM yang sudah besar dapat menyokong AUM yang masih merintis.

 

Menariknya, Rakerda kali ini juga menyentuh isu global. Muhammadiyah mulai mengadopsi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Salah satu langkah konkretnya, instruksi untuk mengurangi penggunaan sampah plastik dalam setiap kegiatan. Ini merupakan bentuk tanggung jawab lingkungan yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah sosial Muhammadiyah.

 

Kesejahteraan Amil dan Marwah Lembaga

 

Sesi pengarahan semakin hangat saat Zaenal membahas nasib para amil sebagai ujung tombak lembaga. Ia sadar betul bahwa angka turnover (pergantian karyawan) yang tinggi akan merugikan stabilitas organisasi. Solusinya adalah kepastian status kepegawaian dan kesejahteraan yang layak.

 

Zainal menekankan pentingnya kejelasan status setelah dua tahun masa pengabdian. Hal ini mencakup pengaturan gaji, tunjangan, hingga bonus yang kompetitif. Namun, kesejahteraan materi harus berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas.

 

“Para amil perlu mendapatkan pelatihan service excellent, manajemen krisis, hingga sertifikasi profesi,” ungkap Zaenal.

 

Selain keterampilan, ia mengingatkan pentingnya menjaga penampilan dan sikap profesional di depan publik. Kedekatan personal dengan pimpinan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan etika profesionalisme. “Meskipun sudah dekat dengan pimpinan, tetap jaga profesionalitas demi menjaga marwah lembaga,” pesannya.

 

Terkait distribusi bantuan, Zaenal menginstruksikan agar seluruh permohonan—termasuk dari internal persyarikatan—wajib melalui proses asesmen yang ketat. Lazismu Gresik menetapkan proporsi penyaluran yang seimbang, yakni antara 60-70 persen untuk internal dan 30-40 persen untuk masyarakat luas. Strategi ini bertujuan agar manfaat dakwah Muhammadiyah terasa nyata oleh publik secara inklusif.

 

Memberi Tanpa Mengeksploitasi Kemiskinan

 

Evaluasi tajam juga menyasar Program Peduli Guru. Zaenal mengingatkan agar kegiatan sosial jangan sampai terjebak dalam kemasan seremonial yang justru menjatuhkan martabat penerimanya. Ia mengkritik keras aksi pemberian bantuan yang hanya menonjolkan dokumentasi untuk kepentingan konten.

 

“Jangan hanya memberi bingkisan lalu difoto dan disebar. Lebih baik kita mengemasnya dalam program edukatif yang bermartabat,” tegasnya. Baginya, memuliakan penerima manfaat adalah bagian dari etika amil yang paling dasar.

 

Menutup rangkaian instruksinya, Zaenal mengajak seluruh amil untuk memperkuat family bonding. Ia percaya, pendekatan kultural dan kekeluargaan adalah perekat terbaik dalam sebuah organisasi dakwah. Melalui komunikasi yang hangat, saling bertukar informasi, dan pendampingan yang intens, kultur Muhammadiyah akan tetap hidup dan kuat di Gresik.

 

“Pendekatan yang hangat dan saling mendampingi akan menjaga semangat kita tetap menyala,” pungkasnya menutup sesi yang penuh energi tersebut. (#)

 

Jurnalis Dyah Faridatun N.H. 

Penyunting Sayyidah Nuriyah 


Alamat
Jl. Jawa no. 76 GKB Gresik 61151 031-3594-7013
Statistik Web
Hari Ini : 41 Minggu Ini : 1006 Bulan Ini : 3919
Copyright © 2026. All Rights Reserved.