Rehat Sejenak di Ruang Spiritual, Bekal Amil Jelang Ramadan
Tagar.co — Suasana ruang pertemuan TK Aisyiyah 42 GBA, Gresik, tampak tenang pada Sabtu, 7 Februari 2026. Di tengah hiruk-pikuk rutinitas, para peserta Kelas Akselerasi Amil (Kamil) berkumpul untuk sejenak menarik napas panjang. Mereka tidak sedang membahas strategi pengumpulan donasi atau manajemen konflik, melainkan sedang menata hati. Momen rehat ini menjadi penting untuk mengisi ulang “baterai” spiritualitas mereka sebelum memasuki bulan suci.
Ahmad Husni Sholahuddien, S.Pd., melangkah ke depan kelas. Pria yang akrab dengan sapaan Husni ini mengawali materinya dengan melantunkan ayat suci Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183.
Suaranya yang tenang membawa para amil—sebutan untuk pengelola zakat—merenungi kembali esensi puasa. Husni menegaskan, puasa Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kewajiban mutlak bagi umat Islam, sebagaimana umat-umat terdahulu telah melaksanakannya.
“Puasa secara syariat adalah menahan diri dari makan, minum, berhubungan suami istri, serta hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari,” jelas Husni dengan lugas.
Ia mengingatkan, puasa memiliki kedudukan yang sangat fundamental dalam struktur keislaman seseorang. Merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ia menekankan bahwa Islam berdiri tegak di atas lima pilar utama.
“Islam dibangun atas lima perkara: persaksian, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan,” terangnya kepada para peserta yang menyimak dengan saksama.
Bagi para amil, memahami fondasi ini adalah kunci agar mereka tidak sekadar bekerja secara profesional, tetapi juga bernilai ibadah.
Keringanan di Balik Kewajiban Puasa
Masuk lebih dalam ke pembahasan teknis namun sarat makna, Husni membedah Surat Al-Baqarah ayat 184. Ia membagi penjelasan tersebut ke dalam tiga poin krusial.
Pertama, ayat ini memberikan kepastian mengenai waktu pelaksanaan puasa. Kedua, Allah memberikan rukhsah atau keringanan bagi hamba-Nya yang sedang mengalami kesulitan fisik atau situasi tertentu, seperti saat sakit atau menjadi musafir (dalam perjalanan jauh).
Husni memberikan penekanan khusus pada bagian ini agar para peserta memahami sifat agama yang tidak memberatkan. “Jika kondisi tersebut menyebabkan seseorang berat melaksanakan puasa, maka ia boleh tidak berpuasa. Namun, ia wajib menggantinya pada hari lain sebanyak jumlah hari yang ditingalkannya,” ujar Husni. Penjelasan ini memberikan perspektif, Islam sangat menghargai kondisi kemanusiaan dan kesehatan penganutnya.
Poin ketiga yang menjadi bahasan hangat adalah mengenai fidyah. Husni menjelaskan, keringanan ini menyasar mereka yang memiliki hambatan fisik permanen atau kondisi yang sangat berat jika harus berpuasa, seperti kelompok lanjut usia, penderita sakit menahun yang sulit sembuh, hingga wanita hamil dan menyusui. Sebagai gantinya, mereka wajib membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.
“Namun, jika seseorang memberi makan lebih dari satu orang miskin, maka hal itu jauh lebih baik,” tambahnya.
Husni menutup sesi materinya dengan pesan yang sangat menyentuh sisi spiritualitas. Meski keringanan tersedia, ia tetap mengimbau agar setiap Muslim mengupayakan puasa jika kondisi fisik mereka masih memungkinkan dan aman secara medis.
“Ringkasnya adalah dalam kondisi tertentu dan ternyata seseorang masih mampu dan aman melaksanakan puasa, maka itu lebih baik. Puasa akan lebih utama daripada meninggalkannya,” pungkas Husni mengakhiri sesi yang penuh ilmu tersebut. Bagi para peserta Kamil, materi ini bukan sekadar teori, melainkan bekal untuk mengedukasi masyarakat saat Ramadhan tiba nanti. (#)
Jurnalis Dyah Faridatun N. H.
Penyunting Sayyidah Nuriyah
Sumber Artikel :
1. https://tagar.co/rehat-sejenak-di-ruang-spiritual-bekal-amil-jelang-ramadan/
Artikel Terbaru
Membangun Kedekatan Donatur Berbasis Digital
Kompetensi Amil, Pilar Strategis Performa dan Kepercayaan Pu...
Jalan Santai Mengisi Hari Akhir Peserta KAMIL Lazismu Gresik
Kekuatan Kisah Nabi Muhammad, Penopang saat Hidup Terasa Ber...
Rehat Sejenak di Ruang Spiritual, Bekal Amil Jelang Ramadan
Bidik Rp25 Miliar, Lazismu Gresik Dorong Inovasi Sosial dan...
Merawat Marwah Lembaga Zakat lewat Tata Kelola Dana Umat
Apresiasi Kinerja, Lazismu Gresik Anugerahkan Kantor Layanan...
Merawat Urat Nadi Perserikatan, Lazismu Gresik Satukan Penge...
Rakerda sebagai Ruang Kejujuran: Lazismu Gresik Teguhkan Ama...